Sesungguhnya diantara hikmah dan rahmat Allah atas hambanya adalah disyariatkannya At-tathowwu’ (ibadah tambahan). Dan dijadikan pada ibadah wajib diiringi dengan adanya at-tathowwu’ dari jenis ibadah yang serupa. Hal itu dikeranakan untuk melengkapi kekurangan yang terdapat pada ibadah wajib.
Dan sesungguhnya at-tathowwu’ di dalam ibadah sholat yang paling utama adalah sunnah rawatib. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakannya dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh).
Mengingat pentingnya ibadah ini, serta dikerjakannya secara berulang-ulang sebagaimana sholat fardhu, ingin menjelaskan sebagian dari hadis-hadis berkaitan sholat rawatib secara ringkas:
Ummu Habibah radiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan sholat sunnah rawatib, dia berkata: saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang sholat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga”. Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut. ‘Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah. ‘Amru bin Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Ansabah. An-Nu’am bin Salim berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Amru bin Aus. (HR. Muslim no. 728)
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang sholat sunnah rawatib sebelum (qobliyah) shubuh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
“Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya”.
Dalam riwayat yang lain, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya” (HR. Muslim no. 725)
Adapun sholat sunnah sebelum shubuh ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah rawatib dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim (tidak berpegian) maupun dalam keadaan safar.
Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka”. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)
Hadits Ummu Habibah di atas menjelaskan bahwa jumlah sholat rawatib ada 12 rakaat dan penjelasan hadits 12 rakaat ini diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa’i, dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh”. (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)
RAKAN BLOG MASJID
12 November 2012
11 November 2012
LARANGAN MEMAKI DAN CERCA
Larangan Memaki dan Mencerca Berhala
Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H)
Tafsir Ibnu Katsir
www.ilmusunnah.com
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.” (Surah al-An’aam, 6: 108)
Huraian dan maksud ayat:
Allah melarang Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman dari mencaci ilah-ilah (yang sembahan-sembahan) kaum musyrikin, walaupun pada cacian tersebut terdapat kemaslahatan (kebaikan). Ini kerana perbuatan mencaci ilah-ilah kaum musyrikin tersebut memiliki mafsadah (kerosakan) yang jauh lebih besar dari kemaslahatan yang terdapat padanya. Iaitu di mana orang-orang musyrikin itu nanti akan membalas balik setiap cacian tersebut dengan cacian yang lain terhadap Ilah kaum mukminin, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.
Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali B. Abi Thalhah, daripada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini:
يا محمد، لتنتهين عن سبك آلهتنا، أو لنهجون ربك، فنهاهم الله أن يسبوا أوثانهم، فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Orang-orang musyrik itu berkata: “Wahai Muhammad, engkau hentikanlah cacianmu terhadap ilah-ilah kami itu, atau kami akan membalas cacian kepada Rabbmu.” Lalu Allah melarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang Mukmin mencaci patung-patung mereka: “kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”.”
‘Abdurrazzaq mengatakan daripada Ma’mar, daripada Qotadah:
كان المسلمون يسبون أصنام الكفار، فيسب الكفار الله عدوا بغير علم، فأنزل الله: وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Dahulu kaum Muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir pun membalas dengan cara mencaci Allah Ta’ala secara melampau-lampau dan tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan. Lalu Allah menurunkan ayat:
“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”
Dalam Tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahawa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
قَالَتْ كُفَّارُ قُرَيْشٍ لِأَبِي طَالِبٍ إِمَّا أَنْ تَنْهَى مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ عَنْ سَبِّ آلِهَتِنَا وَالْغَضِّ منها وإما أن إِلَهَهُ وَنَهْجُوَهُ، فَنَزَلَتِ الْآيَةُ
“Orang-orang kafir pernah berkata kepada Abu Thalib (Pak Cik Rasulullah): “Laranglah Muhammad dan para sahabatnya dari memaki dan menghina ilah-ilah (sembahan) kami, atau kami akan membalas balik dengan cara mencaci dan menghina Tuhan-nya.” Maka turunlah ayat ini.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/61 – Daar al-Kitaab al-Mishriyah)
Keadaan ini menunjukkan bahawa meninggalkan suatu bentuk kemaslahatan demi menghindari kerosakan yang lebih besar adalah suatu yang didahulukan. Ini antaranya berdasarkan hadis sahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَسُبَّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قَالُوا: وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Termasuk dosa besar adalah orang yang mencaci ayah dan ibunya.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang boleh mencaci ayah dan ibunya?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ia mencaci ayah seseorang, lalu orang yang ayahnya dicaci tersebut pun mencaci balas ayah orang yang mencaci. Ia mencaci ibu seseorang, lalu orang itu pun mencaci balas ibu orang yang mencaci tersebut.” (Musnad Ahmad, no. 6840. Shahih al-Bukhari, no. 5973)
Faedah Tafsir:
1, Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kaum mukminin dari perbuatan mencaci atau mencerca berhala-berhala orang-orang kafir, kerana Allah mengetahui apabila kaum mukminin mencerca berhala-berhala tersebut maka orang-orang kafir pun akan melawan balas balik dengan cercaan terhadap Allah dan orang-orang kafir itu pun semakin jauh (dari Islam) dan bertambah pula kekufurannya.
2, Kemaslahatan perlu didahulukan berbanding keburukan (mafsadah). Dan kemaslahatan yang kecil perlu ditinggalkan jika boleh menyebabkan timbulnya mafsadah lain atau mafsadah yang jauh lebih besar.
3, Tidak boleh sengaja mencari pasal dengan orang-orang kafir kerana hal itu lebih menenangkan dan lebih mudah membuatkan mereka menerima Islam. Perbuatan sengaja menghina sembahan-sembahan orang-orang kafir boleh mengakibatkan keadaan huru-hara, membangkitkan kemarahan, menyemarakkan kebencian yang tidak sepatutnya berlaku, dan hanya menjauhkan mereka dari memahami Islam.
Wallahu a’lam.
Dicatat oleh Nawawi Bin Subandi
Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H)
Tafsir Ibnu Katsir
www.ilmusunnah.com
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.” (Surah al-An’aam, 6: 108)
Huraian dan maksud ayat:
Allah melarang Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman dari mencaci ilah-ilah (yang sembahan-sembahan) kaum musyrikin, walaupun pada cacian tersebut terdapat kemaslahatan (kebaikan). Ini kerana perbuatan mencaci ilah-ilah kaum musyrikin tersebut memiliki mafsadah (kerosakan) yang jauh lebih besar dari kemaslahatan yang terdapat padanya. Iaitu di mana orang-orang musyrikin itu nanti akan membalas balik setiap cacian tersebut dengan cacian yang lain terhadap Ilah kaum mukminin, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.
Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali B. Abi Thalhah, daripada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini:
يا محمد، لتنتهين عن سبك آلهتنا، أو لنهجون ربك، فنهاهم الله أن يسبوا أوثانهم، فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Orang-orang musyrik itu berkata: “Wahai Muhammad, engkau hentikanlah cacianmu terhadap ilah-ilah kami itu, atau kami akan membalas cacian kepada Rabbmu.” Lalu Allah melarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang Mukmin mencaci patung-patung mereka: “kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”.”
‘Abdurrazzaq mengatakan daripada Ma’mar, daripada Qotadah:
كان المسلمون يسبون أصنام الكفار، فيسب الكفار الله عدوا بغير علم، فأنزل الله: وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Dahulu kaum Muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir pun membalas dengan cara mencaci Allah Ta’ala secara melampau-lampau dan tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan. Lalu Allah menurunkan ayat:
“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”
Dalam Tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahawa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
قَالَتْ كُفَّارُ قُرَيْشٍ لِأَبِي طَالِبٍ إِمَّا أَنْ تَنْهَى مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ عَنْ سَبِّ آلِهَتِنَا وَالْغَضِّ منها وإما أن إِلَهَهُ وَنَهْجُوَهُ، فَنَزَلَتِ الْآيَةُ
“Orang-orang kafir pernah berkata kepada Abu Thalib (Pak Cik Rasulullah): “Laranglah Muhammad dan para sahabatnya dari memaki dan menghina ilah-ilah (sembahan) kami, atau kami akan membalas balik dengan cara mencaci dan menghina Tuhan-nya.” Maka turunlah ayat ini.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/61 – Daar al-Kitaab al-Mishriyah)
Keadaan ini menunjukkan bahawa meninggalkan suatu bentuk kemaslahatan demi menghindari kerosakan yang lebih besar adalah suatu yang didahulukan. Ini antaranya berdasarkan hadis sahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَسُبَّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قَالُوا: وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Termasuk dosa besar adalah orang yang mencaci ayah dan ibunya.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang boleh mencaci ayah dan ibunya?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ia mencaci ayah seseorang, lalu orang yang ayahnya dicaci tersebut pun mencaci balas ayah orang yang mencaci. Ia mencaci ibu seseorang, lalu orang itu pun mencaci balas ibu orang yang mencaci tersebut.” (Musnad Ahmad, no. 6840. Shahih al-Bukhari, no. 5973)
Faedah Tafsir:
1, Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kaum mukminin dari perbuatan mencaci atau mencerca berhala-berhala orang-orang kafir, kerana Allah mengetahui apabila kaum mukminin mencerca berhala-berhala tersebut maka orang-orang kafir pun akan melawan balas balik dengan cercaan terhadap Allah dan orang-orang kafir itu pun semakin jauh (dari Islam) dan bertambah pula kekufurannya.
2, Kemaslahatan perlu didahulukan berbanding keburukan (mafsadah). Dan kemaslahatan yang kecil perlu ditinggalkan jika boleh menyebabkan timbulnya mafsadah lain atau mafsadah yang jauh lebih besar.
3, Tidak boleh sengaja mencari pasal dengan orang-orang kafir kerana hal itu lebih menenangkan dan lebih mudah membuatkan mereka menerima Islam. Perbuatan sengaja menghina sembahan-sembahan orang-orang kafir boleh mengakibatkan keadaan huru-hara, membangkitkan kemarahan, menyemarakkan kebencian yang tidak sepatutnya berlaku, dan hanya menjauhkan mereka dari memahami Islam.
Wallahu a’lam.
Dicatat oleh Nawawi Bin Subandi
08 November 2012
REBUTLAH PELUANG SELAGI ADA RUANG TIDAK MESTI WANG!
Dari Anas r.a berkata lapan jenis pahala yang tetap diterima seorang, hamba Allah walaupun dia telah meninggal dunia iaitu:
1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat.
2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya
3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang mambacanya.
4. Orang yang menggali perigi ,selagi ada orang yang menggunakannya
5. Sesiapa yang menanam tanaman selagi ada yang memakannya tidak kira manusia atau haiwan
6. Mereka yang mengajar ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya. Yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Quran maka orang yang mengajarnya akan amendapat pahala selagi
anak itu mengamalkannya
7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristigfar baginya.
8. Guru Al-Quran yang mengajar ilmu kitab suci itu kepada muridnya dan si murid mengamalkan ajaran tersebut tanpa sedikitpun mengurangkan pahalanya.
1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat.
2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya
3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang mambacanya.
4. Orang yang menggali perigi ,selagi ada orang yang menggunakannya
5. Sesiapa yang menanam tanaman selagi ada yang memakannya tidak kira manusia atau haiwan
6. Mereka yang mengajar ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya. Yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Quran maka orang yang mengajarnya akan amendapat pahala selagi
anak itu mengamalkannya
7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristigfar baginya.
8. Guru Al-Quran yang mengajar ilmu kitab suci itu kepada muridnya dan si murid mengamalkan ajaran tersebut tanpa sedikitpun mengurangkan pahalanya.
07 November 2012
AWAS ! ELAKKAN MEMBAZIR KENDALI MAJLIS PERKAHWINAN
" PEMBAZIRAN YANG BERLAKU DI DALAM MAJLIS PERKAHWINAN ZAMAN INI "
Bermegah dan sanggup berhutang demi untuk menjadi raja sehari, perbelanjaan berlebihan. Ayuh kita ubah sahabat semua.
"Sebaik-baik wanita untuk dinikahi itu adalah yang paling rendah maharnya. " (H.R. Ahmad)
TANGGUNGJAWAB ANAK LELAKI KEPADA IBU BAPA SELEPAS KAHWIN
Sahabat yang dimuliakan,
Apabila seorang lelaki Muslim berkahwin ia bertanggungjawab memberi nafkah dan segala keperluan kepada isterinya. Samaada nafkah zahir dan batin dan asas pendidikan Islam. Dengan kadar keperluan mengikut kemampuan suami. Bila dikurniakan anak-anak maka tanggungjawabnya akan bertambah kerana telah menjadi ayah untuk menyara segala keperluan nafkah dan pendidikan anak-anaknya pula.
Walaubagaimana pun ia telah memiliki keluarganya sendiri tetapi tanggungjawab kepada kedua ibu bapanya tidak boleh diabaikan kerana ia masih terikat dengan tanggungjawab tersebut.
Dalam Hadith Sahih Bukhari, seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. maksudnya :
“Siapakah yang perlu kita hormati dan kasihi selepas Allah dan Nabi?”Jawab Nabi “Ibu kamu”“Selepas itu?”- “Ibu kamu”“Selepas itu?”- “Ibu kamu”Kali ke 4 lelaki itu bertanya, “Selepas itu?”Jawab Nabi “Ayah kamu”
Lihatlah betapa tingginya nilai ibu di dalam Islam. Seorang ibu tidak ada apa cara sekalipun dapat kita membalasnya. Seorang lelaki datang kepada Sayyidian Umar al-Khattab r.a dan berkata, "Saya telah mendokong ibu saya sepanjang tawaf dan haji, sudahkah saya dapat membalas jasa ibu." Jawab Umar r.a., " Kamu belum dapat membalas jasa ibumu walaupun setitis air mata ibumu semasa melahirkanmu."
Hadis di atas menjelaskan selepas Allah dan Rasul-Nya, orang yang perlu dihormati dan dikasihi adalah ibu dan bapa. Bukan setakat menghormati dan mengasihi mereka tetapi segala keperluan hidup ,keselamatan dan hak-hak mereka perlulah di penuhi sekadar kemampuan si anak tadi.
Menurut Al Qurthubi, derhaka kepada kedua orang tua ialah menyalahi perintah keduanya, sebagaimana bakti keduanya bererti mematuhi perintah mereka berdua. Berdasarkan ini jika keduanya atau salah seorang dari mereka menyuruh anaknya, maka anaknya wajib mentaatinya, jika perintah itu bukan maksiat. Meskipun pada asalnya perintah itu termasuk jenis mubah, begitu pula bila termasuk jenis mandub (sunat).
Dalam sebuah hadis dijelaskan, Rasulullah s.a.w. bersabda: Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: "Seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, aku datang untuk berjihad bersama baginda kerana aku ingin mencari redha Allah dan hari akhirat. Tetapi aku datang kesini dengan meninggalkan ibu bapaku dalam keadaan menangis'. Lalu sabda baginda: "Pulanglah kepada mereka. Jadikanlah mereka tertawa seperti tadi engkau jadikan mereka menangis". (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Jadi perintah ibu atau bapa yang bukan bersifat maksiat atau mempersekutukan Allah, maka kita wajib mentaatinya. Namun jika perintah nya bersifat melawan kehendak dan hukum agama, maka tolaklah dengan cara yang baik.
Sahabat yang dimuliakan,
Seorang wanita apabila telah berkahwin, segala tanggungan dirinya adalah adalah dibawah tanggungan suaminya. Amanah ini terlah diserahkan oleh bapa wanita tadi kepada suaminya.
Bagaimana pandangan Islam kedudukan wanita tersebuat terhadap ibu bapanya?
Islam amat menitik beratkan soal silaturahim, perhubungan sebagai anak dan ibu bapa perlu diteruskan seperti biasa. Wanita kena mentaati suaminya dan diberi keutamaan daripada arahan ibu bapanya kerana tanggungjawab dan ketaatan isteri perlu diberikan kepada suaminya. Walaubagaimana pun Islam melarang suami berlaku tidak adil kepada isterinya jika ada sesuatu keperluan ia ingin membantu ibu bapanya yang susah dan memerlukan bantuan.
Pihak suami perlu ingat bahawa setelah ia mengawini wanita tersebut ibu bapa mertuanya adalah telah menjadi mahramnya dan sama taraf dengan ibu bapanya sendiri. Perlulah diberi kasih sayang dan segala keperluan dan hajat mereka berdua jika mereka terdiri daripada orang miskin perlulah diberi bantuan .
Kedua-duanya (suami dan isteri) wajib berbuat baik kepada kedua orang tua (kedua-dua belah pihak) selagi ada hayatnya di dunia ini. Berbuat baik dalam erti kata menyenangkan hati kedua-duanya dan menjaga serta memberikan apa-apa keperluan mereka. Anak perempuan tidak terlepas tanggungjawab dan berbakti kepada orang tuanya. Jika dia mampu dia juga hendaklah berbuat baik kepada kedua ibu bapanya.
Dalam Islam, lelaki adalah ketua keluarga, sebab itulah anak lelaki diberikan lebih tanggungjawab untuk menyara orang tua nya walaupun selepas berkahwin jika dibandingkan dengan perempuan yang kurang tanggungjawabnya untuk berbuat demikian selepas berumah tangga. Sebab itulah dalam Islam anak lelaki beroleh 1/2 nisbah faraid berbanding dengan anak perempuan, ini menunjukkan betapa Islam menghargai tanggungjawab yang dipikul oleh anak lelaki sebagai ketua keluarga.
Namun pendapat yg mengatakan anak perempuan langsung tidak mempunyai tanggungjawab terhadap ibu bapa selepas berkahwin adalah salah sama sekali. Cuba bayangkan jika ibu bapa itu mempunyai 6 orang anak dan kesemuanya adalah perempuan adakah penat lelah selama mereka membesarkan anak-anaknya langsung tidak akan dihargai anak-anaknya selepas anak-anak tersebut berumah tangga? Ini adalah sesuatu yang tidak adil memandangkan mereka tidak merancang untuk mempunyai anak perempuan semuanya.
Di zaman sekarang telah berubah, semua perempuan telah berkerjaya, seharusnya kedua-duanya anak lelaki dan perempuan sama-sama membantu untuk menyara kedua ibu bapa mereka yang telah tua sebagaimana kedua ibu dan bapa telah menyara mereka semuanya.
Walaubagaimana pun sebelum apa-apa bantuan yang ingin diberikan, isteri perlulah meminta keizinan dan redha daripada suami, sesungguhnya seorang suami yang Mukmin tidak akan menghalang sekiranya isterinya ingin membantu dan memberi khidmat kepada kedua ibu bapanya yang memerlukannya. Isteri perlu faham bahawa redha Allah bergantung kepada redha suami tetapi bagi anak lelaki redha Allah bergantung pada redha ibu bapa.
Sahabat yang dihormati,
Dalam Islam lelaki bujang kena tanggung dosa sendiri apabila sudah baligh
manakala dosa gadis bujang ditanggung oleh bapanya. Lelaki berkahwin kena tanggung
dosa sendiri, dosa isteri, dosa anak perempuan yang belum berkahwin dan dosa
anak lelaki yang belum baligh.
Hukum menjelaskan anak lelaki kena bertanggungjawab ke atas ibu dan bapanya dan sekiranya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya maka dosa baginya terutama
anak lelaki yang tua. Manakala seorang perempuan hanya perlu taat kepada suaminya.
Isteri berbuat baik pahala dapat kepadanya kalau buat tidak baik sedang suaminya membiarkan sahaja tidak menasihatinya maka dosanya ditanggung oleh suaminya.
Suami kena bagi nafkah pada isteri, sedangkan pendapatan isteri tidak perlu menanggung nafkah keluarga, walaubagaimana pun isteri boleh membantu meringankan beban suami.
Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap empat
wanita ini: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya (yang belum berkahwin).
Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh empat orang lelaki iaitu suaminya, ayahnya (jika belum berkahwin), anak lelakinya dan saudara lelakinya.
Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana-mana pintu
Syurga yang disukainya cukup dengan empat syarat sahaja:
1. sembahyang lima waktu,
2. puasa di bulan Ramadhan,
3. taat suaminya dan
4. menjaga kehormatannya.
Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah dan berdakwah dijalan Allah untuk mendapat redha Allah, tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada Allah akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Sahabat,
Keruntuhan rumahtangga dan penceraian yang banyak berlaku di dalam masyarakat kita adalah berpunca daripada pasangan suami isteri yang tidak memahami hukum-hukum Islam. Mereka tidak memahami hak-hak sebagai suami atau isteri. Mereka meletakkan nilai kebendaan dan hawa nafsu dihadapan dan meninggalkan nilai iman dan taqwa sebagai nilai hidup mereka. Penceraian boleh berlaku hanya berpunca daripada perkara kecil yang boleh diselesaikan dengan mudah bila ada iman dan pemikiran yang resional.
Jika suami faham bahawa kesabaran, lemah lembut dan bertolak ansur itu adalah akhlak yang ditunjukkan Nabi s.a.w. ketika berada di dalam perselishan pendapat dengan isteri maka si suami akan mengutamakan akhlak ini kerana sungguh besar pahalanya disisi Allah s.w.t.
Dan juga kalaulah si isteri fahan bahawa betapa besarnya dosa derhaka kepada suami dan tidak akan dapat mencium bau Syurga, maka si isteri akan memilih untuk bersabar dan bertolak ansur semata-mata mencari redha Allah. Perlu diingat perasaan marah, keluarkan suara yang tinggi dihadapan suami, mengeluarkan kata-kata kesat dan ungkit mengungkit perkara lama adalah dari dorongan hawa nafsu dan bisikan syaitan. Syaitan memang suka perpecahan dikalangan keluarga Islam kerana dengan perpecahan ini banyak perkara-perkara negatif akan berlaku.
Kedua ibu bapa samaada di pihak suami atau isteri perlulah menjadi penasihat dan pendamai yang baik bukannya menjadi batu api untuk merosakkan rumah tangga yang telah dibina. Ibu bapa yang menjadi pemusnah rumah tangga bahagia anak mereka sendiri adalah mereka-mereka yang melakukan dosa besar dan menempah tempat duduknya di Neraka, nauzubillah. Sebagai orang tua perlu bersikap positif dan tidak boleh menyebelahi mana-mana pihak jika berlaku perselisihan. Yang penting damaikanlah kerana sifat membantu dan memulihkan suasana tegang adalah sifat ibu bapa yang beriman dan bertaqwa.
Posted by abubasyer
Apabila seorang lelaki Muslim berkahwin ia bertanggungjawab memberi nafkah dan segala keperluan kepada isterinya. Samaada nafkah zahir dan batin dan asas pendidikan Islam. Dengan kadar keperluan mengikut kemampuan suami. Bila dikurniakan anak-anak maka tanggungjawabnya akan bertambah kerana telah menjadi ayah untuk menyara segala keperluan nafkah dan pendidikan anak-anaknya pula.
Walaubagaimana pun ia telah memiliki keluarganya sendiri tetapi tanggungjawab kepada kedua ibu bapanya tidak boleh diabaikan kerana ia masih terikat dengan tanggungjawab tersebut.
Dalam Hadith Sahih Bukhari, seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. maksudnya :
“Siapakah yang perlu kita hormati dan kasihi selepas Allah dan Nabi?”Jawab Nabi “Ibu kamu”“Selepas itu?”- “Ibu kamu”“Selepas itu?”- “Ibu kamu”Kali ke 4 lelaki itu bertanya, “Selepas itu?”Jawab Nabi “Ayah kamu”
Lihatlah betapa tingginya nilai ibu di dalam Islam. Seorang ibu tidak ada apa cara sekalipun dapat kita membalasnya. Seorang lelaki datang kepada Sayyidian Umar al-Khattab r.a dan berkata, "Saya telah mendokong ibu saya sepanjang tawaf dan haji, sudahkah saya dapat membalas jasa ibu." Jawab Umar r.a., " Kamu belum dapat membalas jasa ibumu walaupun setitis air mata ibumu semasa melahirkanmu."
Hadis di atas menjelaskan selepas Allah dan Rasul-Nya, orang yang perlu dihormati dan dikasihi adalah ibu dan bapa. Bukan setakat menghormati dan mengasihi mereka tetapi segala keperluan hidup ,keselamatan dan hak-hak mereka perlulah di penuhi sekadar kemampuan si anak tadi.
Menurut Al Qurthubi, derhaka kepada kedua orang tua ialah menyalahi perintah keduanya, sebagaimana bakti keduanya bererti mematuhi perintah mereka berdua. Berdasarkan ini jika keduanya atau salah seorang dari mereka menyuruh anaknya, maka anaknya wajib mentaatinya, jika perintah itu bukan maksiat. Meskipun pada asalnya perintah itu termasuk jenis mubah, begitu pula bila termasuk jenis mandub (sunat).
Dalam sebuah hadis dijelaskan, Rasulullah s.a.w. bersabda: Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: "Seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, aku datang untuk berjihad bersama baginda kerana aku ingin mencari redha Allah dan hari akhirat. Tetapi aku datang kesini dengan meninggalkan ibu bapaku dalam keadaan menangis'. Lalu sabda baginda: "Pulanglah kepada mereka. Jadikanlah mereka tertawa seperti tadi engkau jadikan mereka menangis". (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Jadi perintah ibu atau bapa yang bukan bersifat maksiat atau mempersekutukan Allah, maka kita wajib mentaatinya. Namun jika perintah nya bersifat melawan kehendak dan hukum agama, maka tolaklah dengan cara yang baik.
Sahabat yang dimuliakan,
Seorang wanita apabila telah berkahwin, segala tanggungan dirinya adalah adalah dibawah tanggungan suaminya. Amanah ini terlah diserahkan oleh bapa wanita tadi kepada suaminya.
Bagaimana pandangan Islam kedudukan wanita tersebuat terhadap ibu bapanya?
Islam amat menitik beratkan soal silaturahim, perhubungan sebagai anak dan ibu bapa perlu diteruskan seperti biasa. Wanita kena mentaati suaminya dan diberi keutamaan daripada arahan ibu bapanya kerana tanggungjawab dan ketaatan isteri perlu diberikan kepada suaminya. Walaubagaimana pun Islam melarang suami berlaku tidak adil kepada isterinya jika ada sesuatu keperluan ia ingin membantu ibu bapanya yang susah dan memerlukan bantuan.
Pihak suami perlu ingat bahawa setelah ia mengawini wanita tersebut ibu bapa mertuanya adalah telah menjadi mahramnya dan sama taraf dengan ibu bapanya sendiri. Perlulah diberi kasih sayang dan segala keperluan dan hajat mereka berdua jika mereka terdiri daripada orang miskin perlulah diberi bantuan .
Kedua-duanya (suami dan isteri) wajib berbuat baik kepada kedua orang tua (kedua-dua belah pihak) selagi ada hayatnya di dunia ini. Berbuat baik dalam erti kata menyenangkan hati kedua-duanya dan menjaga serta memberikan apa-apa keperluan mereka. Anak perempuan tidak terlepas tanggungjawab dan berbakti kepada orang tuanya. Jika dia mampu dia juga hendaklah berbuat baik kepada kedua ibu bapanya.
Dalam Islam, lelaki adalah ketua keluarga, sebab itulah anak lelaki diberikan lebih tanggungjawab untuk menyara orang tua nya walaupun selepas berkahwin jika dibandingkan dengan perempuan yang kurang tanggungjawabnya untuk berbuat demikian selepas berumah tangga. Sebab itulah dalam Islam anak lelaki beroleh 1/2 nisbah faraid berbanding dengan anak perempuan, ini menunjukkan betapa Islam menghargai tanggungjawab yang dipikul oleh anak lelaki sebagai ketua keluarga.
Namun pendapat yg mengatakan anak perempuan langsung tidak mempunyai tanggungjawab terhadap ibu bapa selepas berkahwin adalah salah sama sekali. Cuba bayangkan jika ibu bapa itu mempunyai 6 orang anak dan kesemuanya adalah perempuan adakah penat lelah selama mereka membesarkan anak-anaknya langsung tidak akan dihargai anak-anaknya selepas anak-anak tersebut berumah tangga? Ini adalah sesuatu yang tidak adil memandangkan mereka tidak merancang untuk mempunyai anak perempuan semuanya.
Di zaman sekarang telah berubah, semua perempuan telah berkerjaya, seharusnya kedua-duanya anak lelaki dan perempuan sama-sama membantu untuk menyara kedua ibu bapa mereka yang telah tua sebagaimana kedua ibu dan bapa telah menyara mereka semuanya.
Walaubagaimana pun sebelum apa-apa bantuan yang ingin diberikan, isteri perlulah meminta keizinan dan redha daripada suami, sesungguhnya seorang suami yang Mukmin tidak akan menghalang sekiranya isterinya ingin membantu dan memberi khidmat kepada kedua ibu bapanya yang memerlukannya. Isteri perlu faham bahawa redha Allah bergantung kepada redha suami tetapi bagi anak lelaki redha Allah bergantung pada redha ibu bapa.
Sahabat yang dihormati,
Dalam Islam lelaki bujang kena tanggung dosa sendiri apabila sudah baligh
manakala dosa gadis bujang ditanggung oleh bapanya. Lelaki berkahwin kena tanggung
dosa sendiri, dosa isteri, dosa anak perempuan yang belum berkahwin dan dosa
anak lelaki yang belum baligh.
Hukum menjelaskan anak lelaki kena bertanggungjawab ke atas ibu dan bapanya dan sekiranya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya maka dosa baginya terutama
anak lelaki yang tua. Manakala seorang perempuan hanya perlu taat kepada suaminya.
Isteri berbuat baik pahala dapat kepadanya kalau buat tidak baik sedang suaminya membiarkan sahaja tidak menasihatinya maka dosanya ditanggung oleh suaminya.
Suami kena bagi nafkah pada isteri, sedangkan pendapatan isteri tidak perlu menanggung nafkah keluarga, walaubagaimana pun isteri boleh membantu meringankan beban suami.
Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap empat
wanita ini: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya (yang belum berkahwin).
Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh empat orang lelaki iaitu suaminya, ayahnya (jika belum berkahwin), anak lelakinya dan saudara lelakinya.
Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana-mana pintu
Syurga yang disukainya cukup dengan empat syarat sahaja:
1. sembahyang lima waktu,
2. puasa di bulan Ramadhan,
3. taat suaminya dan
4. menjaga kehormatannya.
Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah dan berdakwah dijalan Allah untuk mendapat redha Allah, tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada Allah akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Sahabat,
Keruntuhan rumahtangga dan penceraian yang banyak berlaku di dalam masyarakat kita adalah berpunca daripada pasangan suami isteri yang tidak memahami hukum-hukum Islam. Mereka tidak memahami hak-hak sebagai suami atau isteri. Mereka meletakkan nilai kebendaan dan hawa nafsu dihadapan dan meninggalkan nilai iman dan taqwa sebagai nilai hidup mereka. Penceraian boleh berlaku hanya berpunca daripada perkara kecil yang boleh diselesaikan dengan mudah bila ada iman dan pemikiran yang resional.
Jika suami faham bahawa kesabaran, lemah lembut dan bertolak ansur itu adalah akhlak yang ditunjukkan Nabi s.a.w. ketika berada di dalam perselishan pendapat dengan isteri maka si suami akan mengutamakan akhlak ini kerana sungguh besar pahalanya disisi Allah s.w.t.
Dan juga kalaulah si isteri fahan bahawa betapa besarnya dosa derhaka kepada suami dan tidak akan dapat mencium bau Syurga, maka si isteri akan memilih untuk bersabar dan bertolak ansur semata-mata mencari redha Allah. Perlu diingat perasaan marah, keluarkan suara yang tinggi dihadapan suami, mengeluarkan kata-kata kesat dan ungkit mengungkit perkara lama adalah dari dorongan hawa nafsu dan bisikan syaitan. Syaitan memang suka perpecahan dikalangan keluarga Islam kerana dengan perpecahan ini banyak perkara-perkara negatif akan berlaku.
Kedua ibu bapa samaada di pihak suami atau isteri perlulah menjadi penasihat dan pendamai yang baik bukannya menjadi batu api untuk merosakkan rumah tangga yang telah dibina. Ibu bapa yang menjadi pemusnah rumah tangga bahagia anak mereka sendiri adalah mereka-mereka yang melakukan dosa besar dan menempah tempat duduknya di Neraka, nauzubillah. Sebagai orang tua perlu bersikap positif dan tidak boleh menyebelahi mana-mana pihak jika berlaku perselisihan. Yang penting damaikanlah kerana sifat membantu dan memulihkan suasana tegang adalah sifat ibu bapa yang beriman dan bertaqwa.
Posted by abubasyer
30 October 2012
ORANG PERTAMA DIPANGGIL PADA HARI KIAMAT ?
Maksud hadis nabi s.a.w. bersabda: "Pada hari kiamat Allah akan menghukum semua makhluk dan semua makhluk melutut. Pada hari itu orang yang pertama sekali akan dipanggil ialah orang yang mengerti Al-Quran, kedua orang yang mati fisabilillah dan ketiga ialah orang kaya.
Allah akan bertanya kepada orang yang mengerti Al-Quran: "Bukankah Aku telah mengajar kepadamu apa yang Aku turunkan kepada utusan-Ku?. Orang itu menjawab: "Benar Ya Tuhanku. Aku telah mempelajarinya di waktu malam dan mengerjakannya di waktu siang." Allah berfirman: "Dusta! Kamu hanya mahu digelar sebagai Qari dan Qariah, malaikat juga berkata demikian." Datang orang kedua, lalu Allah bertanya: "Kenapa kamu terbunuh?." Jawab orang itu: "Aku telah berperang untuk menegakkan agama-Mu." Allah berfirman: "Dusta! Kamu hanya ingin disebut pahlawan yang gagah berani dan kamu telah mendapat gelaran tersebut, malaikat juga berkata demikian."
Kemudian datang orang ketika pula: "Apa kamu buat terhadap harta yang Aku berikan kepadamu?." Jawab orang itu: "Aku gunakan untuk membantu kaum keluargaku dan juga untuk bersedekah." Lantas Allah berfirman: "Dusta! Kamu hanya ingin disebut dermawan dan kamu telah dikenali, malaikat juga berkata demikian." Sabda Rasulullah s.a.w. lagi: "Ketiga-tiga orang inilah yang pertama-tama akan dibakar dalam api neraka."
kisah dan tauladan
Allah akan bertanya kepada orang yang mengerti Al-Quran: "Bukankah Aku telah mengajar kepadamu apa yang Aku turunkan kepada utusan-Ku?. Orang itu menjawab: "Benar Ya Tuhanku. Aku telah mempelajarinya di waktu malam dan mengerjakannya di waktu siang." Allah berfirman: "Dusta! Kamu hanya mahu digelar sebagai Qari dan Qariah, malaikat juga berkata demikian." Datang orang kedua, lalu Allah bertanya: "Kenapa kamu terbunuh?." Jawab orang itu: "Aku telah berperang untuk menegakkan agama-Mu." Allah berfirman: "Dusta! Kamu hanya ingin disebut pahlawan yang gagah berani dan kamu telah mendapat gelaran tersebut, malaikat juga berkata demikian."
Kemudian datang orang ketika pula: "Apa kamu buat terhadap harta yang Aku berikan kepadamu?." Jawab orang itu: "Aku gunakan untuk membantu kaum keluargaku dan juga untuk bersedekah." Lantas Allah berfirman: "Dusta! Kamu hanya ingin disebut dermawan dan kamu telah dikenali, malaikat juga berkata demikian." Sabda Rasulullah s.a.w. lagi: "Ketiga-tiga orang inilah yang pertama-tama akan dibakar dalam api neraka."
kisah dan tauladan
29 October 2012
AQIQAH & QURBAN ASSALAM 10 ZULHIJJAH 1433H
Tn Hj Kamarulzaman sebagai Pengarah Program Ibadah Aqiqah & Qurban 10&11Zulhijjah Assalam 1433Hijriah
Tuan Nazir lebih dikenali sebagai Cikgu Suhaimi juga turun padang pada hari raya pertama selepas solat Jumaat bagi gotong royong aqiqah qurban 3 ekor kambing dan 2 ekor lembu.
Tuan Nazir lebih dikenali sebagai Cikgu Suhaimi juga turun padang pada hari raya pertama selepas solat Jumaat bagi gotong royong aqiqah qurban 3 ekor kambing dan 2 ekor lembu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PERINGATAN BAGI LELAKI !
Mengikut Enakmen Jenayah Syariah (Negeri Selangor) 1995
"Mana-mana lelaki yang baligh yang tidak menunaikan Sembahyang Jumaat
tanpa apa-apa keuzuran syarie yang boleh didakwa dibawah Seksyen 20,
Enakmen Jenayah Syariah (Negeri Selangor) 1995, sekiranya disabit
kesalahan boleh di denda tidak lebih RM1,000 ATAU dipenjarakan selama
tempoh tidak melebihi enam (6) bulan ATAU kedua-duanya sekali."
"Mana-mana lelaki yang baligh yang tidak menunaikan Sembahyang Jumaat
tanpa apa-apa keuzuran syarie yang boleh didakwa dibawah Seksyen 20,
Enakmen Jenayah Syariah (Negeri Selangor) 1995, sekiranya disabit
kesalahan boleh di denda tidak lebih RM1,000 ATAU dipenjarakan selama
tempoh tidak melebihi enam (6) bulan ATAU kedua-duanya sekali."






